Korupsi

October 12, 2014

Waktu saya masih tinggal dan kerja di jakarta dulu, berikut ini adalah pengalaman pribadi saya sehari2 : Berangkat ke kantor, di jalan melihat sopir kopaja dan angkot menaik dan menurunkan penumpang di sembarang tempat yang berakibat macet parah. Orang menyeberang jalan di sembarang tempat walaupun di atas kepala ada jembatan penyeberangan. Sungai penuh sampah berserakan. Pengendara mobil banyak yang menyerobot lampu merah. Sampai di kantor melihat banyak rekan yang lebih sibuk browsing gak jelas daripada sibuk kerja. Istirahat makan siang yang seharusnya 1 jam molor menjadi 2.5 jam. Kemudian disodori teman program MLM gak jelas yang menjanjikan orang dapat kaya dalam sekejab. Ketika pulang, melihat banyak bapak2 dengan baju rapi yang menyerobot antrian busway (sambil cengar-cengir bangga)

Itu semua kelihatannya sudah menjadi budaya orang Indonesia. Budaya ketidak disiplinan, budaya semaunya sendiri dengan mengorbankan kepentingan umum, budaya malas, budaya berharap hidup enak tanpa perlu usaha.

Lantas, apa hubungannya dengan subjek post “Korupsi”? Banyak yang menganggap korupsi adalah penyakit akut Indonesia, salah satu sumber utama kenapa Indonesia sulit maju. Saya tidak. Saya melihat korupsi bukan sebagai penyakit bangsa, tapi korupsi adalah GEJALA dari penyakit yang sebenarnya. Penyakit apa itu? Ya itu tadi. Penyakit malas, penyakit tidak disiplin, penyakit suka mementingkan diri sendiri, penyakit berharap bisa makmur tanpa usaha, semua itu ujungnya ke korupsi

Kalau anda tidak mampu menahan diri untuk tidak naik turun angkot di sembarang tempat, kalau anda tidak mampu menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan, atau menyerobot antrian, atau membuang2 waktu dan uang perusahaan yang telah menggaji anda, saya tidak percaya jika anda menjadi pejabat anda tidak akan korupsi jika ada kesempatan. Gimana tidak? Jika anda tidak mampu menahan godaan untuk menghemat 1-2 menit dengan menyeberang jalan di sembarang tempat ketimbang tempat yang seharusnya, apa anda kira anda akan mampu menahan godaan untuk tidak korupsi uang rakyat jutaan atau milyaran rupah jika ada kesempatan?

Karena itu, jika anda ingin mencari orang untuk disalahkan atas salah satu permasalahan utama negara ini, anda hanya perlu melihat ke cermin. (termasuk saya juga tentunya)

Karenanya kita semua selama ini menanyakan pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang tepat bukanlah “bagaimana cara membasmi korupsi di indonesia”, tapi “bagaimana cara meningkatkan kedisiplinan dan kesadaran sosial rakyat Indonesia”. Bukan tanpa alasan negara-negara yang rakyatnya disiplin tingkat tinggi(negara2 barat, singapore, jepang) tingkat korupsinya juga rendah.


Membuang makanan

October 9, 2014

Tulisan kali ini membahas mengenai dogma atau convensional wisdom yang sudah melekat kuat sejak anda kecil : makanan harus dihabiskan, jangan sampai dibuang.

Bayangkan anda sedang berada di restoran all you can eat, tentu anda boleh mengambil makanan sesuka anda kemudian setelah kenyang ternyata masih ada sisa makanan yang belum dihabiskan di piring anda. Karena sudah kenyang, anda bermaksud pulang tapi ada teman yang berkomentar “makanannya kenapa gak dihabiskan, kan eman”

Ini situasi yang sudah lumrah dalam kehidupan sehari-hari, entah ketika anda memasak sendiri di rumah atau makan di restoran, ada conventional wisdom bahwa makanan yang sudah dipesan atau dimasak harus dihabiskan. Kalau gak, eman kalau dibuang begitu saja. Atau kalau kata nenek kita dulu “nanti berasnya nangis, orang2 di afrika pada kelaparan masa kita makanan dibuang2”

Disini mari kita lihat dua argumen tersebut.

1. Apakah memaksa diri menghabiskan makanan walaupun perut sudah full kenyang mendatangkan manfaat bagi diri sendiri? Rasanya tidak. Perut kenyang adalah sinyal alami bahwa kebutuhan energi kita sudah terpenuhi karenanya makanan ekstra yg kita paksa makan kemungkinan besar tidak memberikan manfaat tambahan, yang ada malah berakibat negatif karena menyebabkan obesitas

2. Apakah memaksa menghabiskan makanan juga akan somehow membantu orang2 kelaparan yang gak bisa makan? Rasanya sih juga gak. Yang ada malah menyakiti hati mereka.

So? Jelas, memaksa menghabiskan makanan yang ada di piring kita tidak membawa manfaat bagi siapapun. Tidak bagi diri kita, juga tidak bagi orang lain. Jadi tidak ada bedanya antara dipaksa dihabiskan atau dibuang ke tempat sampah.

Lantas itu berarti apakah makanan bisa dibiarkan dibuang begitu saja? Tidak juga. Yang saya heran adalah, kenapa banyak orang yang merasa membuang makanan jika tidak menghabiskan makanan yang ada di piring, tapi tidak ada yang merasa membuang makanan ketika memesan/memasak/mengambil makanan di luar kebutuhan?

Lihat bedanya? Anda sudah membuang makanan ketika anda memasak/mengambil makanan di luar kebutuhan energi dan nutrisi anda, bukan karena tidak menghabiskan makanan yang sudah terlanjur anda pesan/masak.

Ada lagi yang bilang, sebutir nasi sangat berharga karena jika dikumpulkan 1 butir saja dari setiap piring dalam sehari nya dari sekian banyak orang maka akan terkumpul nasi yang cukup untuk memberi makan satu desa orang miskin kelaparan, karenanya jangan ada satu butir nasi pun yang dibuang, semua harus dihabiskan. Sounds good, right. But, memakan satu butir nasi tambahan tidak ada bedanya bagi kita, jadi buat apa harus dihabiskan? Memakan satu butir nasi extra pun juga tidak akan membantu orang miskin. Daripada begitu, bukankah lebih baik menyumbang satu butir beras (atau satu sendok lah) sebelum dimasak menjadi nasi untuk disumbangkan rame2 kepada fakir miskin?