Membuang makanan

Tulisan kali ini membahas mengenai dogma atau convensional wisdom yang sudah melekat kuat sejak anda kecil : makanan harus dihabiskan, jangan sampai dibuang.

Bayangkan anda sedang berada di restoran all you can eat, tentu anda boleh mengambil makanan sesuka anda kemudian setelah kenyang ternyata masih ada sisa makanan yang belum dihabiskan di piring anda. Karena sudah kenyang, anda bermaksud pulang tapi ada teman yang berkomentar “makanannya kenapa gak dihabiskan, kan eman”

Ini situasi yang sudah lumrah dalam kehidupan sehari-hari, entah ketika anda memasak sendiri di rumah atau makan di restoran, ada conventional wisdom bahwa makanan yang sudah dipesan atau dimasak harus dihabiskan. Kalau gak, eman kalau dibuang begitu saja. Atau kalau kata nenek kita dulu “nanti berasnya nangis, orang2 di afrika pada kelaparan masa kita makanan dibuang2”

Disini mari kita lihat dua argumen tersebut.

1. Apakah memaksa diri menghabiskan makanan walaupun perut sudah full kenyang mendatangkan manfaat bagi diri sendiri? Rasanya tidak. Perut kenyang adalah sinyal alami bahwa kebutuhan energi kita sudah terpenuhi karenanya makanan ekstra yg kita paksa makan kemungkinan besar tidak memberikan manfaat tambahan, yang ada malah berakibat negatif karena menyebabkan obesitas

2. Apakah memaksa menghabiskan makanan juga akan somehow membantu orang2 kelaparan yang gak bisa makan? Rasanya sih juga gak. Yang ada malah menyakiti hati mereka.

So? Jelas, memaksa menghabiskan makanan yang ada di piring kita tidak membawa manfaat bagi siapapun. Tidak bagi diri kita, juga tidak bagi orang lain. Jadi tidak ada bedanya antara dipaksa dihabiskan atau dibuang ke tempat sampah.

Lantas itu berarti apakah makanan bisa dibiarkan dibuang begitu saja? Tidak juga. Yang saya heran adalah, kenapa banyak orang yang merasa membuang makanan jika tidak menghabiskan makanan yang ada di piring, tapi tidak ada yang merasa membuang makanan ketika memesan/memasak/mengambil makanan di luar kebutuhan?

Lihat bedanya? Anda sudah membuang makanan ketika anda memasak/mengambil makanan di luar kebutuhan energi dan nutrisi anda, bukan karena tidak menghabiskan makanan yang sudah terlanjur anda pesan/masak.

Ada lagi yang bilang, sebutir nasi sangat berharga karena jika dikumpulkan 1 butir saja dari setiap piring dalam sehari nya dari sekian banyak orang maka akan terkumpul nasi yang cukup untuk memberi makan satu desa orang miskin kelaparan, karenanya jangan ada satu butir nasi pun yang dibuang, semua harus dihabiskan. Sounds good, right. But, memakan satu butir nasi tambahan tidak ada bedanya bagi kita, jadi buat apa harus dihabiskan? Memakan satu butir nasi extra pun juga tidak akan membantu orang miskin. Daripada begitu, bukankah lebih baik menyumbang satu butir beras (atau satu sendok lah) sebelum dimasak menjadi nasi untuk disumbangkan rame2 kepada fakir miskin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: