Headphone Philips Fidelio L2

October 2, 2015

I seldom feeling the urge to rave about a headphone, but Phillips Fidelio L2 is an exception. It just simply amazing!! Who ever thought that Phillips, a company that commonly known for their home appliance products, could produce such a phenomenal audiophile grade headphone! It is simply much better than my entire headphone collection which including Beyer DT880, AudioTechnica M50, AD900, AKG K550, Sony MDR-1R.

The sound is incredibly rich, clear, and full of detail, pretty neutral across the spectrum. The bass hit hard with good quality and quantity. It might not satisfy bassheads, but it is just the right amount for me. And the mid, oh the mid is lush and luscious, fully bodied.The treble is clear and crispy but with no sign of sibilance at all. It extends very well to both spectrum, not rolled of in high as in MDR-1R.

Some people even compare it favorably against the legendary Sennheiser HD600/650 or Hifiman He500, but L2 doesn’t need expensive amplifier to sounds good, it runs good even from your smartphone! In terms of price per value performance, it might be the best of all as it only cost less than US$ 250, almost half of senns HD650. A real steal !!!

I am very happy with this one. Now I have to rediscover my entire music collection again, as I can hear sounds that I never able to heard before


Korupsi

October 12, 2014

Waktu saya masih tinggal dan kerja di jakarta dulu, berikut ini adalah pengalaman pribadi saya sehari2 : Berangkat ke kantor, di jalan melihat sopir kopaja dan angkot menaik dan menurunkan penumpang di sembarang tempat yang berakibat macet parah. Orang menyeberang jalan di sembarang tempat walaupun di atas kepala ada jembatan penyeberangan. Sungai penuh sampah berserakan. Pengendara mobil banyak yang menyerobot lampu merah. Sampai di kantor melihat banyak rekan yang lebih sibuk browsing gak jelas daripada sibuk kerja. Istirahat makan siang yang seharusnya 1 jam molor menjadi 2.5 jam. Kemudian disodori teman program MLM gak jelas yang menjanjikan orang dapat kaya dalam sekejab. Ketika pulang, melihat banyak bapak2 dengan baju rapi yang menyerobot antrian busway (sambil cengar-cengir bangga)

Itu semua kelihatannya sudah menjadi budaya orang Indonesia. Budaya ketidak disiplinan, budaya semaunya sendiri dengan mengorbankan kepentingan umum, budaya malas, budaya berharap hidup enak tanpa perlu usaha.

Lantas, apa hubungannya dengan subjek post “Korupsi”? Banyak yang menganggap korupsi adalah penyakit akut Indonesia, salah satu sumber utama kenapa Indonesia sulit maju. Saya tidak. Saya melihat korupsi bukan sebagai penyakit bangsa, tapi korupsi adalah GEJALA dari penyakit yang sebenarnya. Penyakit apa itu? Ya itu tadi. Penyakit malas, penyakit tidak disiplin, penyakit suka mementingkan diri sendiri, penyakit berharap bisa makmur tanpa usaha, semua itu ujungnya ke korupsi

Kalau anda tidak mampu menahan diri untuk tidak naik turun angkot di sembarang tempat, kalau anda tidak mampu menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan, atau menyerobot antrian, atau membuang2 waktu dan uang perusahaan yang telah menggaji anda, saya tidak percaya jika anda menjadi pejabat anda tidak akan korupsi jika ada kesempatan. Gimana tidak? Jika anda tidak mampu menahan godaan untuk menghemat 1-2 menit dengan menyeberang jalan di sembarang tempat ketimbang tempat yang seharusnya, apa anda kira anda akan mampu menahan godaan untuk tidak korupsi uang rakyat jutaan atau milyaran rupah jika ada kesempatan?

Karena itu, jika anda ingin mencari orang untuk disalahkan atas salah satu permasalahan utama negara ini, anda hanya perlu melihat ke cermin. (termasuk saya juga tentunya)

Karenanya kita semua selama ini menanyakan pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang tepat bukanlah “bagaimana cara membasmi korupsi di indonesia”, tapi “bagaimana cara meningkatkan kedisiplinan dan kesadaran sosial rakyat Indonesia”. Bukan tanpa alasan negara-negara yang rakyatnya disiplin tingkat tinggi(negara2 barat, singapore, jepang) tingkat korupsinya juga rendah.


Membuang makanan

October 9, 2014

Tulisan kali ini membahas mengenai dogma atau convensional wisdom yang sudah melekat kuat sejak anda kecil : makanan harus dihabiskan, jangan sampai dibuang.

Bayangkan anda sedang berada di restoran all you can eat, tentu anda boleh mengambil makanan sesuka anda kemudian setelah kenyang ternyata masih ada sisa makanan yang belum dihabiskan di piring anda. Karena sudah kenyang, anda bermaksud pulang tapi ada teman yang berkomentar “makanannya kenapa gak dihabiskan, kan eman”

Ini situasi yang sudah lumrah dalam kehidupan sehari-hari, entah ketika anda memasak sendiri di rumah atau makan di restoran, ada conventional wisdom bahwa makanan yang sudah dipesan atau dimasak harus dihabiskan. Kalau gak, eman kalau dibuang begitu saja. Atau kalau kata nenek kita dulu “nanti berasnya nangis, orang2 di afrika pada kelaparan masa kita makanan dibuang2”

Disini mari kita lihat dua argumen tersebut.

1. Apakah memaksa diri menghabiskan makanan walaupun perut sudah full kenyang mendatangkan manfaat bagi diri sendiri? Rasanya tidak. Perut kenyang adalah sinyal alami bahwa kebutuhan energi kita sudah terpenuhi karenanya makanan ekstra yg kita paksa makan kemungkinan besar tidak memberikan manfaat tambahan, yang ada malah berakibat negatif karena menyebabkan obesitas

2. Apakah memaksa menghabiskan makanan juga akan somehow membantu orang2 kelaparan yang gak bisa makan? Rasanya sih juga gak. Yang ada malah menyakiti hati mereka.

So? Jelas, memaksa menghabiskan makanan yang ada di piring kita tidak membawa manfaat bagi siapapun. Tidak bagi diri kita, juga tidak bagi orang lain. Jadi tidak ada bedanya antara dipaksa dihabiskan atau dibuang ke tempat sampah.

Lantas itu berarti apakah makanan bisa dibiarkan dibuang begitu saja? Tidak juga. Yang saya heran adalah, kenapa banyak orang yang merasa membuang makanan jika tidak menghabiskan makanan yang ada di piring, tapi tidak ada yang merasa membuang makanan ketika memesan/memasak/mengambil makanan di luar kebutuhan?

Lihat bedanya? Anda sudah membuang makanan ketika anda memasak/mengambil makanan di luar kebutuhan energi dan nutrisi anda, bukan karena tidak menghabiskan makanan yang sudah terlanjur anda pesan/masak.

Ada lagi yang bilang, sebutir nasi sangat berharga karena jika dikumpulkan 1 butir saja dari setiap piring dalam sehari nya dari sekian banyak orang maka akan terkumpul nasi yang cukup untuk memberi makan satu desa orang miskin kelaparan, karenanya jangan ada satu butir nasi pun yang dibuang, semua harus dihabiskan. Sounds good, right. But, memakan satu butir nasi tambahan tidak ada bedanya bagi kita, jadi buat apa harus dihabiskan? Memakan satu butir nasi extra pun juga tidak akan membantu orang miskin. Daripada begitu, bukankah lebih baik menyumbang satu butir beras (atau satu sendok lah) sebelum dimasak menjadi nasi untuk disumbangkan rame2 kepada fakir miskin?


Skill yang paling dibutuhkan programmer

September 23, 2014

Banyak yang menanggap skill utama bagi programmer itu bisa framework ini itu, bahasa pemrograman ini itu, design pattern ini itu, dan sebagainya.

I beg to differ here, really-really differ.

Bagiku, semua itu tidak ada artinya, tidak penting banget. Gak penting berapa banyak framework atau bahasa pemgoraman yg kamu kuasai. Bagiku, skill yang paling dibutuhkan programmer cuma ada dua : kemampuan break down problem, dan kemampuan debugging.

KEMAMPUAN BREAK DOWN PROBLEM

Apa artinya? Simply, kemampuan memecah suatu problem yang sekilas kelihatannya rumit menjadi banyak sub problem yang jauh lebih sederhana dan memecahkannya satu per satu. Looks simple, tapi berdasarkan pengamatanku justru ini skill yang sangat langka. Banyak orang yang menganggap suatu problem sebagai suatu kesatuan utuh yang harus dipecahkan sekaligus dan karenanya kelihatan jauh lebih sulit dan bikin gelagapan.

Contoh sederhana : bikin program yang bisa menampilkan karakter asterisk di layar yang bisa bergerak dan jika menyentuh ujung layar akan memantul. Problem ini bisa dipecah menjadi sub problem yang jauh lebih sederhana, dan dipecahkan satu per satu:

  1. Sub problem pertama tentu bagaimana cara menampilkan karakter asterisk di layar. Pecahkan problem ini dulu.
  2. Kalau sudah bisa menampilkan asterisk, problem berikutnya tentu bagaimana cara membuatnya bisa bergerak. Disini mungkin perlu ada modifikasi terhadap solusi dari sub problem pertama. Misal jika menampilkannya dengan hard code pada suatu posisi tertentu, tentu lebih baik jika ditaruh dalam suatu fungsi/procedure untuk bisa menampilkannya pada posisi manapun di layar
  3. Problem bagaimana cara mendeteksi kalau asterisk sudah menyentuh ujung layar
  4. Problem bagaimana membuat asterisk tersebut memantul

Sound simple kan. Problem yg rumit dipecah menjadi sub problem yang jauh lebih mudah kemudian dipecahkan satu-satu. Tapi tidak semua programmer sanggup mempunyai cara berpikir spt itu.

Disini ada sesuatu yg menarik. Saat memecahkan sub problem, you simply should not give a shit about later sub problem. Saat anda memecahkan problem bagaimana menampilkan karakter di layar, anda fokus pada satu problem itu dulu, gak perlu bingung nanti gimana cara memindahkannya atau bagimana cara membuat memantul. Kemudian, saat memecahkan sub problem yg belakangan, jika diperlukan solusi yg sudah dibangun sebelumnya dirombak lagi. That’s OK, mungkin para “pakar” bilang itu gak efisien. But by experience itu adalah the best way. Peduli setan para “pakar” bilang apa. Membingungkan bagaimana memecahkan sub problem yg kemudian sebelum menuntaskan suatu problem awal adalah simply defeat the purpose dari breaking down the problem, yg mana tujuan utamanya adalah membuat masalah yg rumit menjadi jauh lebih sederhana. Karena itu gw paling anti sama metodologi waterfall atau big design up front. Menurut gw itu gak realistis banget.

DEBUGGING

Ya jelas, kalau bikin program tentu tidak lepas dari yg namanya bug. Misal error compile, atau tiba2 null pointer exception dalam situasi tertentu, atau stack overflow, dan sebagainya. Disini seorang programmer yg baik harus menerapkan metodologi ilmiah dalam memecahkan suatu bug:

  1. Perform hypotesis. Buat hypotesis tentang apa saja yang mungkin menyebabkan suatu masalah
  2. Dari hypotesa2 diatas, buat prediksi dan kemudian test apakah prediksi itu benar apa gak.
  3. Eliminasi hipotesa2 mana yang yang terbukti salah karena prediksinya gak terbukti
  4. Repeat, sampai ketemu akar masalahnya.

Sayangnya skrg penulis masih gak ketemu contoh konkritnya yg gampang dijelaskan. Nanti kapan2 kl dapat ilham mgkn bakal gw update.

Kebanyakan programmer yg gw temui, cuma bisa bengong sambil mengumpat kalau ketemu masalah tak terduga. Ya pantesan programnya gak jadi2. Karena mau sehebat apapun programmer, gak mungkin bisa bikin program yg 100% langsung sempurna saat pertama kali kompile build. Problem is expected, karenanya kemampuan memecahkannya dengan efisien secara logis juga sangat penting.

Penulis percaya dua skill diatas is the utmost important. Framework bisa dengan gampang dipelajari, tapi breaking down problem dan debugging kelihatannya adalah sesuatu yg by nature. You either get it, or don’t get it at all. Oh tentu kedua skill diatas sulit ditemukan di programmer level mediocre. Karena nya mungkin mereka tetap lebih baik bragging berapa banyak design pattern atau framework yg mereka kuasai. Whatever deh


Petir source code

November 13, 2013

I’ve decided to release the source code of my magnum opus, my chess engine, Petir.

Since I have no longer interest in it anyway.

Feel free to do anything with it. Clone it, use it as your thesis, whatever. It’s not like anyone might interested to do that anyway, since there are much better open source chess engine available over the net.

Feel free to download:

http://www.4shared.com/rar/5q0lFhI6/439_SRC__1_.html

The version is 4.39, which based on public rating list might be the strongest version available, and also several hundred elo point stronger than the one that I used as my final project for my undergraduate program at STTS. It should be above 2500 elo rating point, estimated, so this might be as strong as human grand master.

Latest work on it is on 2006 or 2007,  so this might be several years behind from latest techniques, but latest chess programming techniques perhaps just simply take strongest open source chess engine available (Komodo or strelka, I think), modify a few parameters, then proudly release it as your own work. Yeah, changing a few parameters is really that hard.

A little bit of history, I have developed it for about five years, since my second years at STTS.


Efek jika Yunani out dari Euro

May 23, 2012

Apa yang akan terjadi jika Yunani quit dari Euro?

Mereka akan kembali ke mata uang Drachma. Government tentu akan mencetak uang secara besar2an untuk mensimulasi pertumbuhan. Akibatnya Drachma akan ter-depresiasi.

Sedangkan saat ini banyak investor global yang memegang bond yunani dalam bentuk Euro. Karena Yunani balik ke Drachma, maka nominal nya akan berubah menjadi Drachma juga. Sedangkan Drachma sendiri akan terdepresiasi. So, nilai yang mereka pegang akan ikut merosot. Jika sebelumnya memegang bond yunani senilai satu juta euro misalnya, maka bisa menyusut menjadi 500 ribu euro. Ini tentu kabar buruk bagi pemegang bond yunani.

Yunani sendiri sih bukan masalah besar karena ukurannya kecil. Yang menjadi masalah itu terutama spanyol dan itali. Jika yunani quit, maka investor akan takut membeli bond spanyol dan itali. Akibatnya, cost of borrowing kedua negara itu akan membengkak. Ini akan memaksa ECB untuk membailout. Sedangkan ukuran utang mereka sendiri terlalu besar untuk di bail out. Akibatnya, bisa jadi Itali dan spanyol juga terpaksa keluar dari Euro. Yang mana kembali ke masalah di paragraf sebelumnya, dalam skala yang jauh lebih besar. Akibatnya, credit freeze ala tahun 2008 kemarin akan terulang kembali.

Seharusnya negara2 eropa selatan sejak awal tidak diperbolehkan bergabung ke uni euro. Karena karakter perekonomiannya saja sudah berbeda dengan negara2 di eropa utara. Kalau mau satu mata uang, harusnya karakter ekonomi nya sama supaya bisa masuk ke business cycle yang sama. Jangan sampai satu negara resesi, negara lainnya malah growth. Policy makernya jadi bingung. Negara yang resesi pengin spending untuk mensimulasi growth, sedangkan negara yg growth malah pengin pengetatan supaya perekonomian tidak terlalu hot.


BBM

March 28, 2012

Ya ya ya, aku tahu udah lama gak update blog ini. Ya aku tahu blog ini rencananya ditujukan untuk membahas hal2 teknikal (judulnya saja : codepeter), tapi berhubung lagi panas membahas isu kenaikan BBM maka off topik bentar gak apa2 ya. Habis ini gak akan diupdate lagi kok sampai jangka waktu yang gak akan ditentukan kemudian wkwk

Kali ini aku pengin membahas soal kalkulasi ajaib kwik kian gie yang menyebut pemerintah untung 97T dari jualan BBM.

http://www.riekediahpitaloka.com/release/201203/kenaikan-harga-bbm-sby-untung-rakyat-buntung/

Sebelum kita membahas lebih dalam, mari kita cek hitung2an matematika sederhana.

Pemerintah membeli minyak mentah sebesar 105 USD per galon, artinya sekitar 950 ribu dengan kurs 1 USD = 9000 rupiah. Kemudian dijual ke rakyat dengan harga 4500 per liter. 1 galon = 159 liter, artinya hasil penjualan sekitar 715 ribu. 715 ribu dikurangi dengan 950 ribu ya minus 200 ribu. Minus 200 ribu kok bisa dibilang untung 97 T, dapat dari mana 97 T itu? Apa gak ada yang merasa aneh?

Ok, lanjut. Ada beberapa kesalahan dalam perhitungan Kwik itu:

  1. Produksi minyak 900 ribu galon itu minyak mentah.Minyak mentah gak bisa langsung dipompa ke mobil anda. Minyak mentah harus diolah dulu menjadi BBM. Nah, proses pengolahan ini tidak bisa 100% minyak mentah menjadi BBM. Yield BBM nya jauh di bawah itu, tergantung kualitas minyak mentahnya dan kualitas kilangnya. Bisa separo minyak mentah -> BBM aja sudah bagus. Refer to : http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/eng99/eng99288.htm
  2. Angka2 itu hanya total sales – cost of good solds. Biaya produksi spt LRT, lifting, dll itu secara akunting masuk ke cost of goods sold. Total sales – cost of goods sold itu laba KOTOR. Bukan laba bersih. Untuk menjadi laba bersih masih harus dipotong lagi dengan biaya administrasi, biaya karyawan, biaya pemeliharaan kilang, dll. Itu juga gak ada di hitung2annya kwik. Emangnya SPBU itu gak narik untung dari jualan BBM? Kemudian, dari laba bersih (kalau ada) juga pasti tidak 100% dibagikan ke pemegang saham (dalam hal ini pemerintah). Pasti ada sebagian besar yang ditahan untuk pengembangan usaha (emang gak perlu biaya eksplorasi, pembangunan kilang baru, dll). Istilah accountingnya : laba ditahan. Biasanya laba ditahan ini bisa mencapai 70-100% dari laba bersih.

Jelas? Penulis sendiri berharap BBM harusnya naik. Kenapa? Ya karena BBM itu sudah mau habis! Sekarang saja indonesia sudah menjadi net importir. Kita harus mengurangi ketergantungan energi kita terhadap BBM. Kenaikan harga BBM akan mendorong rakyat untuk menghemat pemakaian BBM, dan juga sebagai insentif untuk beralih ke energi alternatif. Gas alam, energi surya, batu bara, whatever. Yang penting kita harus mulai beralih. Negara lain bahkan sudah mulai riset dari bertahun2 lalu untuk mendapatkan energi dari alga. Kita? Masih belum mulai apa2.

Ingat hukum permintaan dan penawaran. Penawaran berkurang berarti harga naik. Kalau harga minyak dunia naik, berarti penawaran menipis, persediaan minyak bumi mulai terkuras. Jika persediaan minyak bumi mulai terkuras, itu berarti kita harus menghemat pemakaian BBM dan beralih ke energi alternatif.  Jika harga BBM terus ditahan, maka tidak ada insentif untuk melakukan penghematan. Tidak ada insentif untuk beralih ke energi alternatif. Alih2 harus menghemat, kita malah semakin boros karena permintaan akan terus meningkat sedangkan supply semakin berkurang.

Ya, penulis sadar dalam jangka pendek kenaikan BBM akan meningkatkan inflasi. Dalam jangka pendek mungkin kita harus mengencangkan ikat pinggang. Dalam jangka pendek mungkin sebagian rakyat akan lebih susah. Sayangnya, kita tidak punya alternatif lain. Kenaikan BBM harus dilakukan demi jangka panjang yang lebih baik. Demi anak cucu kita kelak. Sekarang saja harga minyak masih 105 USD. Bagaimana jika situasi geo politik terus memburuk dan harga minyak melonjak menjadi 200 USD? Kalau sekarang tidak naik, akan lebih berat untuk naik di kemudian hari. Semakin lama kita menunda kenaikan BBM, akan semakin menyakitkan ke depannya.

Coba pikir, apa yang akan terjadi 20 tahun lagi jika semua minyak di Indonesia sudah terkuras habis sedangkan energi alternatif tidak ada karena mulai sekarang tidak ada insentif untuk eksplore, untuk beralih.

Pada saat itu, apa yang akan anda pakai untuk mengisi tangki mobil anda? Sumber energi apa yang akan dipakai supaya pabrik kita bisa beroperasi, supaya buruh pabrik bisa makan? Masih berharap BBM impor akan tetap disubsidi oleh pemerintah? Oh, pada saat itu minyak sudah mulai habis di seluruh dunia, harga minyak dunia akan mencapai ribuan dollar per barel.